Kurniaan Ilahi


KAHWIN
ape fikiran korang bila terfikirkan dan memikirkan pasal KAHWIN?

CALON SUAMI atau ISTERI??
DUIT HANTARAN??
DUDUK DI PELAMIN SEPERTI RAJA DAN PERMAISURI??
DEBAR MAJLIS AKAD NIKAH??

pasti ada yang tak lena tido memikirkan tentang KAHWIN.
tak kurang jugak yang tersengih2 cam kerang busuk.
ape2 pun, anda dijemput membaca nukilan dari seorang sahabat..

Ketika melihat sahabat-sahabat yang menjejaki alam pernikahan, saya suka tersenyum.
Bukan apa , saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkait ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan rasa enggan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang dulunya mahal dengan senyuman, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti tahu la".
Aihh...tiba-tiba menggebu perasaan ini ingin menmatkan zaman bujang bersama si dia.

Menikah itu sangat indah kata ibu saya dan hanya akan dirasakan oleh yang sudah menjalaninya.Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas alur ibadah suami dan isteri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah,dunia menjadi terang benderang.saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu.Sepoi angin dimaknai begitu mendalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lazat. Mendung di langit bukan masalah besar.Seolah dunia milik mereka saja, mengapa??...mungkin kerana semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti baru saja bermula dan sejarah keluarga baru saja disusun.
Namun sayang.. ada juga cinta yang menguap ke angkasa atau hilang ditelan dalamnya bumi. Entahlah, saat itu cinta mereka menghindar entah kemana. Seiring detik yang berlalu, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan. Tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian.

Pendapat yang pernah saya dengar – ‘Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta di antara suami isteri, sunggguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri, kerana cinta isteri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Cinta suami kepada isteri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati.’

Selanjutnya kemudian, saya teringat satu peristiwa dari seorang sahabat. Saat itu seorang isteri memarahi suaminya habis-habisan. Sahabat saya yang berada di sana sangat hiba bila melihat sang suami hanya terdiam.
Padahal sang suami baru saja pulang dari pejabat. Peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi kerja sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu melekat di wajah sang suami. Hanya kerana masalah kecil, emosi isteri meledak begitu hebat. Sahabat saya kira akan terjadi ‘perang’. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan ciuman sayang penuh mesra di kening si isteri. Isterinya yang sedang berapi-api pun terus diam, senyum malu mengembang kemudian dengan suara merdu dia bersuara “maafkan mama ya pa”.
Gegas ia raih tangan suami dan merangkul erat. Rutinnya setiap kali suaminya pulang.

Setelah kejadian itu, sahabat saya bertanya pada sang suami. Kenapa ia berbuat demikian.”Saya mencintainya, kerana dia isteri yang dianugerahkan Allah, kerana dia ibu anak-anak saya. Ya, kerana saya menyayanginya.”…demikian jawabannya. Emm, begitu penyabarnya dia. Saya harap saya temui seseorang seperti itu.


Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda.
Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati. Mereka akan saling setia senantiasa memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang isteri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan isteri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetik pun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fizikal berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a isterinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada yang memohon kepada Allah supaya suami selalu dalam perlindungan-Nya dan tidak tergelincir dari landasan-Nya.

Nasihat lain yang masih lagi berbekas di hati dari salah seorang sahabat jauh, dia berkata ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti, tanamkan dalam sudut hati sebuah hadith nabi. Ada baiknya para isteri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad ini. Salah
satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada':

‘Barang siapa diantara para suami bersabar atas perilaku buruk dari isterinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa di antara para isteri bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun’


Juga torehkan hadist ini dalam benak :

‘Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya’
(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)


Kepada saya sendiri yang teringin menamatkan zaman bujang, kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada mereka yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan isteri berperilaku seperti Khadijah isteri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakuan Nabi Muhammad kepada para Isterinya. Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona adalah isteri yang shalehah, isteri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Isteri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi kawan istrinya. Suami yang begitu kuat mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nakhoda kapal keluarga, mengharungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki ‘syurga’. Akhirnya, semuanya mudah-mudahan tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami isteri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta.

Sama seperti syair yang dilaungkan Gibran :

Bangun di fajar subuh dengan hati seiringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman.


Semoga Allah selalu menghimpunkan kita (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kita bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kita membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world ‘Akhirat’.Mudah-mudahan kita semua selamat mendayung sampai ketepian…Amin…

----- Forwarded Message ----
From: nurhanani suhaimi
To: si_miey@yahoo.com
Sent: Thu, March 4, 2010 2:18:03 PM
Subject: Fwd: Kurniaan illahi

Comments :

5 comments to “ Kurniaan Ilahi ”

miSsLola said... on 

oh lambatnye.... terasa macam nak kahwin je..tp si dia belum terjumpa lagi.. tak pa la.. awak kawin dulu la... :)

simieY said... on 

hom..
lok ko senior2 dulu deh.hehee

miss poi said... on 

aku mau menikah....

simieY said... on 

kamu memang wajib nikoh cik pres.hehee

intan said... on 

ya memang nikah ....... gitu????

Popular Posts

Blog List

 
simiey[dot]com

Blogger Template by Blogger Mbojo Share In Premium Wordpress Themes and Blogger Template | Host In Blogger.com